June 18, 2024

Produk air minum galon dengan kemasan bebas bisphenol A (BPA) banyak diminati masyarakat. Hal ini seiring dengan tumbuhnya kesadaran konsumen dan inovasi dari produsen air minum dalam kemasan (AMDK) yang menawarkan galon dalam berbagai ukuran dan desain menarik yang aman bagi kesehatan dan lingkungan.

Pada Rabu, 28 Maret 2023, Nio Eko Susilo, Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Air Minum Dalam Kemasan Nasional (ASPARMINAS), mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat minat konsumen terhadap produk galon bebas BPA semakin meningkat.” .

Echo mengatakan sebuah perusahaan air minum kemasan telah meluncurkan botol galon yang terbuat dari polietilen tereftalat, plastik bebas BPA berkualitas tinggi. Selain bebas BPA, keamanan dan kualitas produk dipertimbangkan baik dalam botol maupun galon, katanya. Hal ini berbeda dengan kemasan galon yang menggunakan jenis plastik kaku atau polikarbonat yang dibuat menggunakan BPA.

Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kandungan BPA dalam satu galon polikarbonat cenderung menimbulkan potensi bahaya kesehatan karena kerentanan senyawa tersebut terhadap degradasi dan konsumsi. Padahal, kadar BPA tertentu berpotensi menimbulkan beberapa penyakit, seperti gangguan hormonal, gangguan kesuburan wanita, dan gangguan tumbuh kembang anak.

Persaingan untuk mendapatkan galon bebas BPA semakin memanas.

Eko memperkirakan persaingan di pasar galon “Bebas BPA” akan semakin ketat karena produsen lain tidak mau ketinggalan dalam berinovasi. Salah satunya adalah pengenalan Baby Gallon, galon mini bebas BPA yang banyak dijual dalam ukuran 5 dan 6 liter di beberapa kota termasuk Jakarta.

“Galon mini memenuhi kebutuhan masyarakat akan galon air yang cocok untuk kegiatan atau acara tertentu di luar ruangan,” kata Echo. “Dari sudut pandang lingkungan, plastik PET lebih mudah didaur ulang dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga ukuran galon yang berbeda lebih ramah lingkungan.”

Sementara itu, market leader industri AMDK telah meluncurkan galon isi ulang 19 liter bebas BPA, namun distribusinya masih sangat terbatas di wilayah Bali dan Manado.

Echo juga mencatat meningkatnya kekhawatiran tentang kemasan galon bebas BPA di kalangan ibu yang menanyakan tentang keamanan dan kualitas kemasan.

“Ini mungkin karena BPA sering dikaitkan dengan potensi risiko kesehatan pada anak, seperti gangguan hormonal dan masalah perkembangan,” kata Ecko.

Oleh karena itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menetapkan peraturan pelabelan bahaya BPA pada galon polikarbonat. Melalui peraturan ini, pemerintah berharap dapat mengedukasi masyarakat untuk memilih kemasan galon yang tepat. Rancangan peraturan pelabelan BPA saat ini masih menunggu persetujuan akhir dari pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *